Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir mendorong banyak perusahaan di Indonesia untuk mengubah cara mereka bekerja. Teknologi ini dimanfaatkan untuk mempercepat proses operasional, meningkatkan akurasi, serta membantu pengambilan keputusan berbasis data.
Namun, di tengah manfaat tersebut, muncul kekhawatiran di kalangan tenaga kerja. Otomatisasi sering dikaitkan dengan pengurangan tenaga kerja dan meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini memunculkan pertanyaan penting: apakah AI benar-benar menjadi ancaman bagi pekerja, atau justru solusi baru yang membantu dunia kerja beradaptasi dengan perubahan zaman?
Apa Itu AI dan Bagaimana Teknologi Ini Mengubah Dunia Kerja?
Kecerdasan buatan atau AI adalah teknologi yang memungkinkan mesin mampu menganalisis data, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas layaknya manusia. Di Indonesia, penerapan AI makin luas mulai dari chatbot untuk layanan pelanggan, sistem rekomendasi belanja, analisis data otomatis, sampai robot di pabrik yang membantu proses produksi.
Bagi perusahaan, teknologi ini membuat pekerjaan lebih cepat dan efisien. Sementara bagi pekerja, AI mulai mengubah peran kerja — dari pekerjaan yang bersifat rutin menjadi pekerjaan yang lebih strategis dan bernilai tambah.
Artinya, AI bukan sekadar menggantikan tugas manusia, tetapi menggeser fokus pekerjaan ke peran yang membutuhkan pengawasan, analisis, dan pengambilan keputusan.
Tren PHK Akibat AI di Indonesia: Fakta & Data Terbaru
Isu PHK akibat otomatisasi dan efisiensi digital memang menjadi perhatian global. Di banyak negara, restrukturisasi tenaga kerja terjadi seiring dengan adopsi teknologi baru, termasuk AI. Fenomena ini juga mulai dirasakan di Indonesia, terutama di sektor yang sedang melakukan transformasi digital.
Sepanjang awal 2025, tercatat puluhan ribu pekerja terdampak PHK di berbagai sektor industri. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua PHK semata-mata disebabkan oleh AI, melainkan juga oleh: efisiensi biaya, perubahan model bisnis, perlambatan ekonomi global, dan restrukturisasi organisasi
AI sering kali menjadi bagian dari strategi efisiensi, tetapi bukan satu-satunya faktor penyebab
Dampak Negatif AI terhadap Pekerja: Ancaman yang Mulai Terlihat
Tidak dapat dipungkiri, AI membawa tantangan nyata bagi sebagian tenaga kerja, terutama pada pekerjaan yang bersifat: repetitif, administratif, berbasis input data manual, operasional sederhana
Pekerjaan seperti administrasi dasar, data entry, dan layanan pelanggan konvensional mulai berkurang karena bisa diotomatisasi.
Selain itu, tantangan terbesar bukan hanya hilangnya pekerjaan tertentu, melainkan kesenjangan keterampilan (skill gap). Pekerja yang tidak mengikuti perkembangan teknologi berisiko tertinggal dan sulit beradaptasi dengan perubahan peran kerja.
Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat berdampak pada meningkatnya pengangguran dan tekanan sosial.
Dampak Positif AI bagi Pekerja: Peluang Baru yang Mulai Bermunculan
Di sisi lain, AI juga membuka peluang baru yang signifikan. Banyak laporan global menunjukkan bahwa teknologi justru menciptakan jenis pekerjaan baru, terutama di bidang analisis data, pengelolaan sistem AI automasi industri, digital marketing, pekerjaan hybrid yang menggabungkan teknologi dan kreativitas.
Di Indonesia, kebutuhan tenaga kerja digital terus meningkat setiap tahun. AI membantu perusahaan bekerja lebih efisien, sekaligus mendorong pekerja untuk naik ke peran yang lebih strategis.
Dalam praktiknya, AI sering mengambil alih pekerjaan yang melelahkan dan berulang, sehingga pekerja dapat: fokus pada pengambilan keputusan, meningkatkan kualitas kerja, mengembangkan inovasi dan kreativitas
Hal ini menunjukkan bahwa AI lebih tepat dipandang sebagai alat bantu (enabler), bukan pengganti manusia.
Strategi Adaptasi Pekerja dalam Menghadapi Perubahan Akibat AI
Hadirnya AI membuat pola kerja berubah cepat, jadi pekerja perlu siap beradaptasi supaya tetap relevan dan kompetitif. Ada beberapa langkah sederhana tapi penting yang bisa dilakukan:
1. Upgrade Skill Digital
Kemampuan dasar seperti memahami penggunaan AI, data, dan teknologi digital jadi nilai tambah besar. Banyak platform pelatihan gratis dari pemerintah seperti Kominfo Digital Talent Scholarship atau Kartu Prakerja yang bisa bantu pekerja meningkatkan keterampilan digital.
2. Kuasai Soft Skill yang Nggak Bisa Digantikan Mesin
AI bisa melakukan banyak hal, tapi kemampuan seperti berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, dan problem solving tetap jadi keunggulan manusia. Soft skill ini justru makin dihargai karena mendukung kerja sama antara manusia dan teknologi.
3. Pahami Cara Kerja Teknologi di Industri Tempat Bekerja
Setiap sektor punya kebutuhan teknologi yang berbeda. Pekerja yang memahami bagaimana AI digunakan di industrinya akan lebih siap beradaptasi, bahkan punya peluang berkembang dalam peran baru yang terkait teknologi.
4. Fleksibel dengan Perubahan peran
Banyak pekerja yang awalnya hanya fokus pada satu jenis tugas, sekarang berkembang ke tugas yang lebih strategis. Fleksibilitas ini membantu menghadapi perubahan struktur kerja akibat otomatisasi.
5. Ikut Pelatihan Reskilling dan Upskilling
Perusahaan juga mulai menyediakan pelatihan internal agar karyawan siap dengan kebutuhan teknologi baru. Pekerja yang aktif ikut program seperti ini biasanya lebih dipertahankan karena dianggap adaptif.
6. Bangun Personal Branding Digital
Dengan dunia kerja yang makin digital, punya jejak online yang positif seperti portofolio, LinkedIn yang aktif, atau kemampuan membuat konten profesional bisa meningkatkan peluang kerja.
Kesimpulan
perkembangan AI memang membawa tantangan bagi dunia kerja, terutama bagi pekerjaan yang bersifat rutin. Namun, jika dilihat secara lebih luas, AI bukan sekadar ancaman, melainkan solusi yang membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas kerja.
Kunci menghadapi perubahan ini terletak pada kesiapan pekerja, perusahaan, dan pemerintah untuk beradaptasi bersama. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi mitra kerja yang memperkuat peran manusia, bukan menggantikannya.
Di masa depan, pekerja yang mampu berkolaborasi dengan teknologi akan memiliki peluang karir yang lebih luas dan berkelanjutan.